Kata "ekonomi" berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara bahasa diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Para ekonom berpendapat bahwa Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan (Inggris: scarcity). 
Pilihan yang ditempuh oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas inilah yang memunculkan bidang ilmu ekonomi. Jadi, Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia baik secara individu maupun masyarakat dalam menentukan pilihan-pilihan terhadap sumberdaya yang terbatas jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas jumlahnya. Demikianlah, definisi ekonomi yang terdapat dalam literatur-literatur ekonomi yang sampai saat ini masih diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di seluruh dunia. 
Kelangkaan (scarcity), yang dianggap sebagai permasalahan ekonomi itu muncul sebagai akibat dari kondisi dimana keinginan manusia atas alat pemuas kebutuhan lebih besar dari jumlah alat pemuas kebutuhan yang tersedia. Berdasarkan kelangkaan tersebut, maka muncul apa yang disebut barang ekonomi, yaitu barang yang jumlah permintaannya lebih banyak dibandingkan jumlah barang yang tersedia. Barang ekonomi merupakan barang yang mempunyai nilai (harga). Jadi, barang memiliki nilai (harga) jika terdapat permintaan atas suatu barang dan jumlah permintaan tersebut lebih banyak dari barang yang tersedia.
Jawaban atas permasalahan paradoks antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan terbatasnya (langkanya) sumbersumber ekonomi yang tersedia, adalah dengan menambah jumlah produksi barang dan jasa setinggi-tingginya agar kebutuhan manusia yang tidak terbatas dapat diperkecil jaraknya. Bahkan kaum klasik (kapitalis aliran Adam Smith) berkeyakinan seperti yang dinyatakan oleh JB Say bahwa “ Supply creates own demand” atau penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri. Berapa-pun barang yang diproduksi produsen (swasta) akan mampu diserap atau dikonsumsi oleh rumah tangga. Mereka juga berkeyakinan bahwa perekonomian akan selalu dalam keseimbangan tanpa campur tangan apapun dari pemerintah. Meskipun jawaban permasalahan tersebut pada akhirnya harus berbenturan dengan tingkat permintaan konsumen, di mana tingkat permintaan konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga produksi sebanyak-banyaknya dapat mengakibatkan inefisiensi dan ketidakseimbangan pasar (market disequilibrium), akan tetapi filosufi pemecahan masalah (problem solving) ekonomi dengan cara seperti ini menentukan bagaimana melihat hakikat permasalahan ekonomi. Dengan cara pandang ini, solusi ekonomi yang harus ditempuh secara mikro adalah peningkatan produksi sebanyak-banyaknya, dan secara makro mengejar pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya.

 
Benarkah Kebutuhan Manusia Tidak terbatas?
Sesungguhnya kebutuhan manusia terbatas. Kebutuhan manusia ada dua, kebutuhan pokok dan kebutuhan pelengkap. Kebutuhan pokok adalah kebutuhan manusia yang bersifat mendasar dimana bila kebutuhan ini tidak terpenuhi maka manusia akan mengalami kebinasaan atau kesengsaraan dalam hidup. Kebutuhan pokok ini terdiri dari sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa makanan dan manusia akan sengsara bila kekurangan makanan, namun kebutuhan manusia akan makanan sangat terbatas. Manusia rata-rata hanya makan tiga piring dalam sehari, kalaupun ada yang lebih dari tiga piring dalam sehari, yang demikian hanyalah sedikit orang, itupun tidak akan sampai seratus piring dalam sehari apalagi tidak terbatas. Demikian pula dengan pakaian, manusia membutuhkan pakaian yang layak untuk dipakai sehari-hari yang berguna untuk melindungi badan dari cuaca dan untuk menjaga kehormatan diri, namun kebutuhan manusia akan pakaian juga terbatas, wajarnya setiap manusia berganti pakaian dua kali dalam sehari, sehingga kebutuhan akan pakaianpun juga terbatas. Kebutuhan manusia akan perumahan juga demikian, satu keluarga satu rumah sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan pendidikan, kesehatan dan keamanan adalah kebutuhan yang bersifat immateri (jasa). 
Jenis kebutuhan ini juga terbatas, pendidikan memang luas, namun ilmu yang dibutuhkan manusia untuk hanya sekedar menjalani kehidupan dengan layak terbatas. Kesehatan juga demikian, tidak setiap hari manusia sakit, sehingga kebutuhan manusia akan kesehatan terbatas. Keamanan pun demikian, kriminalitas dapat ditekan dan kebutuhan manusia akan keamanan dapat dipenuhi dengan baik. Sedangkan kebutuhan pelengkap adalah kebutuhan tambahan dari kebutuhan pokok untuk mempernyaman kehidupan. Orang tidak binasa atau sengsara bila kebutuhan tidak terpenuhi. Contoh kebutuhan ini adalah memperindah rumah, memiliki mobil, rekreasi dll. Janis kebutuhan ini juga terbatas, karena pada dasarnya manusia dapat hidup lebih baik dan lebih nyaman tanpa harus memiliki segalanya.
Permasalahannya adalah tidak dibedakannya antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants), inilah kelemahan mendasar teori scarcity. Kebutuhan manusia terbatas, sedangkan keinginan manusia tidak terbatas. Walaupun keinginan manusia tidak terbatas, namun keinginan manusia tetap terikat dengan persepsi manusia itu sendiri, sehingga keinginan manusia relatif mengikuti persepsi manusia itu sendiri. Ada manusia yang sekiranya mendapat satu gunung emas, dia menginginkan gunung emas yang kedua. Namun ada manusia yang sama sekali tidak menginginkan sekeping emas-pun karena dia memiliki persepsi bahwa dia hidup sederhana di dunia untuk meraih kehidupan lebih baik setelah kehidupan dunia. Walau manusia bisa menginginkan apapun, namun bisa jadi manusia tidak menginginkan “apapun” karena persepsinya. Jadi memang betul keinginan manusia tidak terbatas, namun keinginan manusia yang tidak terbatas itu sebenarnya relatif mengikuti persepsi manusia.
Dengan demikian, Tidak bisa dikatakan bahwa “Supply creates own demand” karena kebutuhan manusia terbatas. Kebutuhan akan barang dan jasa terbatas, sehingga tidak semua penawaran terserap pasar. Permintaan konsumen sangat terbatas, memaksakan untuk memproduksi barang atau jasa tanpa kesesuaian kebutuhan dan kondisi konsumen akan menyebabkan ketidakseimbangan pasar. 
Kebutuhan manusia terbatas, alat pemuas kebutuhan manusia juga terbatas. Bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidup yang terbatas tersebut dengan alat pemuas kebutuhan yang juga terbatas? inilah sebanarnya falsafah yang mendasari manusia untuk melakukan sesuatu kegiatan dan mengambil pilihan-pilihan. Jadi, Permasalahan ekonomi adalah bagaimana kebutuhan pokok setiap individu manusia terpenuhi dan adanya keleluasaan bagi setiap manusia untuk memenuhi kebutuhan pelengkapnya, dengan cara tertentu sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. 

 

Bagaimana kebutuhan pokok setiap manusia dapat terpenuhi? Jawabannya adalah produksi dan distribusi. Produksi adalah aktifitas untuk mengadakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan sedangkan distribusi adalah aktifitas untuk menyampaikan barang dan jasa pemuas kebutuhan kepada masyarakat. produksi berkaitan dengan pertanyaan, 1. Barang apa yang akan diproduksi?, 2. Bagaimana barang diproduksi?, sedangkan distribusi berkaitan dengan pertanyaan?, 3. Untuk siapa barang yang diproduksi dan bagaimana mekanisme pendistribusiannya?

1) Barang apa yang akan diproduksi.
Berdasarkan teori kelangkaan, maka muncul apa yang disebut dengan barang ekonomi. Barang ekonomi merupakan barang yang jumlah permintaannya lebih banyak dibandingkan jumlah barang yang tersedia, sehingga barang tersebut memiliki nilai dan harga. Semakin banyak barang yang tersedia, maka semakin murah harganya, sebaliknya semakin sedikit jumlahnya maka semakin mahal harga. Barang ekonomi-lah yang menjadi pembahasan para ekonom, sedangkan barang yang jumlahnya besar dan jumlahnya melebihi permintaannya disebut barang bebas dan tidak dibahas.  
Teori tentang barang ekonomi yang dilandasi dengan teori kelangkaan adalah teori yang lemah, karena pembahasan tentang barang ekonomi hanya memperhatikan permintaan saja. Barang disebut sebagai barang ekonomi bila ada permintaan atas barang tersebut. Dengan teori tersebut, maka barang-barang berbahaya pun dapat disebut sebagai barang ekonomi. Miras dan narkoba bisa disebut sebagai barang ekonomi karena permintaan akan barang tersebut, padahal jelas-jelas barang tersebut membahayakan masyarakat. Seharusnya untuk disebut sebagai barang ekonomi tidak cukup hanya permintaan atas barang tersebut, namun manfaat barang tersebut dan nilai yang dianut oleh masyarakat juga menjadi penentu apakah barang tersebut termasuk barang ekonomi yang akan diproduksi. Manfaat barang berkaitan dengan kebutuhan manusia, yaitu apakah barang yang akan diproduksi adalah barang yang dibutuhkan oleh masyarakat atau malah membahayakan, sedangkan nilai yang dianut oleh masyarakat berkaitan dengan nilai yang dianut atau peraturan yang diterapkan dalam sebuah masyarakat.Seberapa banyak akan diproduksi? Jumlah produksi berkaitan dengan permintaan, sedangkan permintaan berkaitan dengan kebutuhan manusia baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan pelengkap. Maka, tidak bisa dikatakan bahwa “Supply creates own demand” karena tidak selalu penawaran menciptakan permintaanya sendiri atau tidak selalu barang yang diproduksi terserap oleh pasar. Produksi atau penawaran selalu terikat dengan permintaan dan permintaan selalu terikat dengan kebutuhan manusia yang terbatas.

2) Bagaimana barang diproduksi
Masalah ini menyangkut teknik untuk memanfaatkan sumber daya untuk memproduksi barang yang dibutuhkan. Manusia selalu berusaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Manusia selalu mencari penemuan baru-baru. Dulu, petani hanya menggunakan cangkul dan pengairan hujan, namun kini berkembang dengan menggunakan traktor dan irigasi. Varietas unggul ditemukan sehingga umur padi lebih pendek dengan kualitas yang lebih baik. masalah ini menyangkut tehnologi yang senantiasa dikembangkan oleh manusia, dan sifat teknologi adalah netral atau tidak terikat dengan peradaban tertentu.

3) Untuk siapa barang yang diproduksi atau mekanisme distribusi?
Barang dan jasa tersebut diproduksi untuk memenuhi permintaan. Ruang lingkup permintaan bukanlah konsumen secara keseluruhan atau masyarakat pada umumnya, tetapi sekelompok konsumen atau sebagian masyarakat yang melakukan permintaan atas barang dan jasa yang ditawarkan produsen. Di mana kemampuan konsumen melakukan permintaan bergantung pada kekuatan daya belinya. Jadi hanya bagi konsumen yang mampulah barang dan jasa yang diproduksi diperuntukkan, bukan bagi orang-orang yang tidak mampu atau golongan miskin. Dua titik pertemuan antara “permintaan konsumen” yang memiliki kemampuan dengan penawaran produsen yang memiliki kemampuan produksi menghasilkan keseimbangan ekonomi (economic equilibrium). Harga menentukan siapa saja yang dapat masuk ke dalam area produksi dan siapa saja konsumen yang dapat mengkonsumsi barang dan jasa. Inilah yang dimaksud dengan harga sebagai metode distribusi ekonomi.
Distribusi bagi produsen adalah ketika harga (biaya produksi) menentukan harus berhenti berproduksi atau tetap mampu berproduksi. Bagi produsen yang tetap mampu berproduksi, maka ia harus mengevaluasi dan mengatur kembali barang apa saja yang diproduksi (termasuk masalah kualitas), berapa banyak harus diproduksi, dan kelompok konsumen mana yang dibidik.Distribusi bagi konsumen adalah ketika harga mengharuskannya menghitung-hitung kemampuannya dalam membeli barang dan jasa. Harga membuat sekelompok konsumen yang mampu dapat memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya. Harga membuat sekelompok konsumen yang kurang kemampuannya untuk secara tidak penuh mengkonsumsi barang dan jasa yang dibutuhkannya. Harga pula membuat konsumen yang sama sekali tidak mampu untuk gigit jari karena tidak dapat mengkonsumsi barang yang dibutuhkannya

Sumber: http://syariah.org/id/index.php?option=com_content&view=article&id=67:falsafah-dasar-ekonomi-kapitalis&catid=37:ekonomi-dan-keuangan


0 komentar:

Poskan Komentar